Cerdas Berbelanja di Dunia Maya

Headline SponsordLeave a Comment on Cerdas Berbelanja di Dunia Maya

Cerdas Berbelanja di Dunia Maya

Bulan april adalah bulannya konsumen indonesia, setiap tanggal 20 april diperingati sebagai hari konsumen nasional (HARKONAS). Tahun ini acara puncak Hari Konsumen Nasional dilaksanakan tanggal 24 April 2018 di Pangkal Pinang Provinsi Bangka Belitung. Berbagai rangkaian, update dan rencana kegiatannya dapat dilihat di harkonas.id, web official HARKONAS yang dikelola oleh Kementrian Perdagangan Republik Indonesia. Peringatan harkonas.id merupakan simbol pengingat tentang pentingnya hak-hak konsumen di indonesia yang sering dilupakan. Acara harkonas juga sebagai komitmen kementrian perdagangan republik indonesia pada perlindungan konsumen, termasuk konsumen di era digital yang semakin complicated.

Dunia sudah bergerak begitu cepat, teknologi juga semakin cepat masuk dalam kehidupan sosial masyarakat. Kehidupan dalam komunitas dunia yang semakin terhubung hampir tidak mungkin menghindar, mereka yang tak mampu mengikuti perkembangan zaman akan tersingkir. Begitulah era milenium ini terjadi, hal yang 50 tahun lalu mungkin tidak pernah terbayangkan hadir secara nyata disekitar kita. Hal ini juga terjadi pada perdagangan, secara tradisional transaksi jual beli tidak berubah, yaitu bagaimana konsumen membeli sesuatu dari penjual. Namun secara sitem sudah berubah dan bergerak begitu drastis.

Jika pada masa lalu bahkan masih terjadi 10 tahun lalu jual beli terjadi dengan pertemuan antara penjual dan pembeli di suatu lokasi, baik itu pasar, mall, toko atau penjual keliling yang masuk gang-gang rumah. Kini semua itu sudah berubah, transaksi dimana bertemunya penjual dan pembeli terjadi di layar baik itu berupa desktop pesonal computer atau smartphone.

Maka munculah berbagai ecommerce dan marketplace di indonesia, baik yang bersifat umum hingga yang spesifik pada produk tertentu. Selain itu juga ada ratusan dan mungkin ribuan seller di berbagai sosial media seperti facebook, instagram dan berbagai sosial media yang transaksi dan proteksinya hanya berdasar kepercayaan. hal ini menuntut konsumen cerdas di era digital, cerdas dalam berbelanja dan bertransaksi.

Yang dimaksud modal kepercayaan adalah terjadinya transaksi tanpa ada kejelasan penjual dan jaminan uang serta barang/jasa didapatkan pembeli. Berbeda dengan yang berbasis sistem seperti marketplace dimana ada jaminan dari pihak ketiga. Sayangnya meskipun ada jaminan dan proteksi celah terjadainya kecurangan yang bisa menyebabkan kerugian bagi konsumen tetap ada.

Jaminan terhadap konsumen dalam banyak hal, tidak hanya pada barang atau jasa yang dinikmati tapi juga berupa perlindungan pada data pribadi konsumen.

Di era digital ini maka penting bagi konsumen untuk cerdas dalam berbelanja dan bertansaksi di dunia maya. Transaksi tidak lagi terjadi secara tradisional dimana saat membeli konsumen bisa melihat barang, mengeceknya lalu memastikan keaslian barang. Sedangkan dalam era digital transaksi terjadi tanpa pertemuan secara langsung.

Dalam catatan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) januari-november 2017 mencatat 101 keluhan tentang belanja online dari 642 pengaduan umum terhadap YLKI. Seperti dilansir oleh @konsumencerdas_Id.

Komplain yang paling banyak diadukan oleh konsumen adalah lambatnya respon dengan persentase sebesar 44%, disusul dengan barang yang tidak sampai (36%), sistem merugikan (20%), tidak diberikannya refund (17), hingga dugaan penipuan (11%).

Menurut Staf Bidang Pengaduan dan Hukum YLKI Abdul Baasith, tingkat pengaduan konsumen terhadap belanja online meningkat signifikan pada Desember 2017. Jumlah keluhan meningkat sebanyak 46%, di antaranya bersumber dari Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) pada 12 Desember 2017.

Karena itulah penting bagi kita untuk menjadi konsumen cerdas di era digital. Hal-hal yang penting untuk diperhatikan oleh kita sebagai konsumen di era digital antara lain.

  1. Siapa penjualnya.

Penting bagi kita untuk melihat siapa penjualnya, jangan terlalu tertarik dengan harga jual yang jauh dari harga pasaran normal. Pastikan penjual sudah anda kenal atau terekomendasi. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya penipuanbertransaksi dengan seller baik itu marketplace atau sosial media harus tetap menjadikan kepastian sebagai priorias.

  1. Jaminan kualitas dan keaslian produk

Jika anda memang menjadikan brand sebagai pertimbangan utama untuk membeli suatu barang maka pastikan keaslian produk yang dijual. Produk asli, khususnya elektronik memiliki garansi dan service after sales yang jelas. Hal ini juga harus menjadi prioritas saat membeli supaya tidak terjebak pada barang palsu atau barang ilegal atau dikenal istilah barang “black market”.

  1. Tempat transaksi terjadi

Semakin majunya teknologi maka semakin banyak pula ragam cara bertransaksi. Banyak cara pembayaran saat berbelanja online, bisa transfer langsung melalui atm dan setor tunai di bank. Bisa melalui kartu kredit, menggunakan cicilan digital atau pembayaran berbasi app melalui penyedia layanan fintech.

Semakin beragamnya pilihan pembayaran yang utama adalah kemanan data transaksi anda, sejauh mana penyedia pembayaran menjamin keamanan data dan transaksi di dunia digital. Semudah apapun, kemanan adalah prioritas utama saat transaksi.

  1. Perlindungan pada data pribadi

Hal yang paling sensitif di dunia digital dewasa ini adalah sistem keamanan data pribadi. Yang terbaru dan paling menyita perhatian adalah “pencurian” data pengguna facebook oleh cambridge analytic yang digunakan untuk kepentingan politik.

Berbeda dengan transaksi jual-beli konvensional, penjual tidak perlu tahu data diri pembeli. Namun, dalam dunia digital penting untuk penjual mengetahui data diri pembeli untuk berbagai kepentingan seperti keperluan penjualan hingga ekspedisi.

Pastikan setiap penjual memiliki komitmen untuk melindungi data pribadi anda dan tidak digunakan untuk kepentingan ilegal hingga hal-hal yang menggganggu lainnya.

Empat poin penting diatas bisa menjadi pegangan saat bertransaksi di dunia digital. Apapun jenis transaksi digital yang dilakukan seperti jual-beli barang hingga transaksi jasa seperti transportasi dan ticketing pastikan anda tidak begitu saja terjebak pada layanan promo yang bombastis dan berlebihan. Manfaatkan setiap promo dengan cerdas dan hati-hati, karena penanganan jika terjadi masalah pada era digital ini masih cukup rumit.

Untuk menjamin adanya perlindang pada konsumen sebenarnya pemerintah sebagai regulator sudah membuat UU Perlindungan Konsumen nomer 8 tahun 1999. UU ini adalah perangkat hukum yang diciptakan untuk melindungi dan terpenuhinya hak konsumen. Pemerintha juga menerbitkan Perpres 50 Tahun 2017 tentang Strategi Nasional Perlindungan Konsumen (Stranas PK) sebagai upaya melindungi konsumen semakin baik.

Meskipun cara dan bentuk transaksi mulai bergeser dari konvensional ke dunia digital prinsip-prinsip perlindungan konsumen yang ditetapkan pemerintah tetap sama. UU ini menjelaskan bahwa hak konsumen diantaranya adalah hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan atau jasa; hak untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan; hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian, apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; dan sebagainya.

Sebagai konsumen yang cerdas di era digital penting untuk tahu jaminan perlindungan konsumen seperti dalam UU sehingga jika terjadi masalah dengan penjual atau penyedia jasa, konsumen bisa melakukan pelaporan dan penyelesaian.

Syahdan, semakin bergeraknya dunia ke era digital dan semakin berkembangnya teknologi seperti adanya ponsel pintar (smartphone) hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence ) maka harus diikuti juga dengan semakin cerdasnya kita sebagai konsumen dalam berbelanja. Cerdas yang artinya tahu hak dan kewajiban saat bertransaksi apapun di era digital seperti sekarang ini supaya tidak dirugikan dan bermasalah di setiap transaksi.

Semoga di harkonas.id 2018 ini semakin meningkatkan kesadaran dan komitmen kita sebagai konsumen terhadap hak-haknya saat berbelanja dan bertransaksi, selain itu juga semakin meningkatnya komitmen kementrian perdagangan dan seluruh stekholder yang terlibat supaya ekonomi indonesia semakin maju. Maju secara ekonomi dan teknologi menuju 100 tahun indonesia pada 2045.

========

bahan bacaan

http://ditjenpktn.kemendag.go.id

http://www.harkonas.id

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen , Perpres 50 Tahun 2017 tentang Strategi Nasional Perlindungan Konsumen (Stranas PK)

Instagram @konsumencerdas_id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top