Aisyah Istri Rasullulah

Aisyah bukan sekedar istri yang bermain-main lari-larian dengan rosulluloh, bukan sekedar berbagi gelas minuman, tidak hanya sekedar kisah tidurnya rosul di depan rumah sepanjang malam karena tak tega mengetuk pintu yang akan membangunkan istrinya.

Aisyah adalah peletak penting konsepsi fiqih kaum muslimin seluruh dunia. Jika Khadijah adalah sosok penting saat perjuangan islam di awal-awal kedatangannya, pendamping tangguh nabi di saat sulit, maka Aisyah adalah sosok penting pada hukum-hukum islam dimasa sekarang.

Bahkan ‘Abd al-Majīd Maḥmūd berani menyatakan bahwa, jika dihitung-hitung, sekitar seperempat dari hukum-hukum syariah yang ada berasal dari Aisyah.

sumbangan aisyah paling penting adalah kecerdasan intelektualnya. para ulama-ulama salaf lebih sering menyebut Aisyah sebagai wanita cerdas bukan wanita cantik. Hampir semua hadis pada fiqih perempuan bersumber dari Aisyah.

Fiqih-fiqih perempuan, dari rumah tangga, haid dan nifas,bahkan hingga mandi janabah bersumber dari Aisyah. Sebagai istri yang tinggal bersama, tingkat kepercayaan pada hadist-hadist dari aisyah berada pada level tertinggi.

Kontribusi besar Aisyah inilah yang menjadikannya sangat penting bagi landasan syariat islam. Aisyah mampu meriwayatkan 2.210 hadis. Ini menunjukkan bahwa Aisyah adalah sosok wanita yang memiliki kecerdasan dan pemahaman luar biasa.

Lebih dari itu, jika dibandingkan dengan para periwayat yang lain, Aisyah juga memiliki keunggulan dalam hal al-infirād bi riwāyat al-ḥadīth. Artinya, Aisyah banyak meriwayatkan hadis-hadis tunggal (fard), yaitu hadis-hadis yang tidak diriwayatkan oleh orang lain.

Tidak berlebihan kiranya Aisyah bisa dianggap sebagai sosok paling penting dalam sejarah periwayatan hadis dari masa ke masa.

Dalam meriwayatkan hadis, Aisyah juga sangat ketat berpegang kepada redaksi asli hadis tersebut. Ia menolak riwāyah bi al-ma‘nā, yaitu kebolehan meriwayatkan hadis dengan redaksi yang berbeda-beda asal maknanya sama.

berbeda dari para sahabat lain yang banyak meriwayatkan hadis dari sesama sahabat, sebagian besar hadis-hadis Aisyah merupakan periwayatan langsung dari Rasulullah SAW.

Kemampuan Aisyah yang tinggi dalam memahami hadis bisa diukur dengan banyak kriteria. Salah satunya adalah jumlah fatwa, yakni putusan hukum yang didasarkan pada penalaran dan istinbāṭ. Karena rincian-rincian hukum fiqih sebagian besar didasarkan pada hadis, maka kemampuan memberikan fatwa adalah salah satu kriteria yang penting dalam mengukur tingkat pemahaman seseorang terhadap hadis dan sunnah Rasul.

Dalam hal ini, peran Aisyah sangat menonjol. Ia merupakan salah satu dari tujuh sahabat yang paling banyak memberikan fatwa. Pada masa ‘Umar bin Khaṭṭab, Aisyah termasuk ke dalam kelompok para sahabat yang diberi izin resmi untuk memberikan fatwa.

Aisyah juga memiliki kemampuan yang luar biasa. Ia seringkali menolak atau menyalahkan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat lain karena dianggapnya bertentangan dengan dalil-dalil lain yang lebih kuat.

Beberapa ulama bahkan mengumpulkan kritik-kritik (istidrākāt) Aisyah terhadap para sahabat itu ke dalam literatur tersendiri. Badr al-Dīn al-Zarkashī menulis al-Ijābah li Īrād mā istadrakathu Aisyah ‘alā al-Ṣaḥābah yang berisi 49 istidrāk Aisyah kepada para sahabat. Kemudian al-Suyūṭī menambahkan 4 istidrāk lain dalam karyanya, Ayn al-Iṣābah fī Istidrāk Aisyah ‘alā al-Ṣaḥābah.

Kritik-kritik tersebut menunjukkan kemandirian intelektual Aisyah serta keluasan pengetahuannya tentang hadis dan syariat Islam secara umum.

Setelah kematian Nabi Muhammad, Aisyah dianggap sebagai sumber yang paling dapat diandalkan dalam ajaran hadits. Otentikasi Aisha tentang cara-cara shalat dan pembacaannya atas Al-Qur’an memungkinkan untuk pengembangan pengetahuan tentang sunnah tentang sholat dan membaca ayat-ayat Alquran.

Mengenang Aisyah sebenarnya mengenang seorang perempuan islam yang cerdas, berpengetahuan, dan memiliki otoritas keilmuan. Aisyah sebagai Istri Rosul tidak sekedar sebagai perempuan dengan pipi kemerahan tapi sebagai manusia penting dalam studi keilmuan syariat Islam.

Aisyah bin Abu Bakar RA disebut Ummul Mukminin tidak hanya karena beliau istri Rosul yang penuh kisah romantis, tapi posisi pentingnya dalam membangun pondasi Fiqih dalam Islam.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.