Karena hidup tak sekedar makan

Pandemi ini ujian sangat dahsyat buat para pemilik usaha, pedagang, baik kecil maupun besar. tidak ada perbedaan nasib pedagang besar dan kecil, semua kena gencet. makanya ada istilah yang sering disebut, “jika bisnis anda berhasil melalui ujian covid, anda pebisnis tangguh”. hampir semua sektor terpuruk, meski yang paling terpuruk itu lingkaran industri pariwisata, tapi efeknya sangat dalam.

seperti kita semua ketahui industri bisnis tidak pernah berdiri sendiri, semua saling terkati, saling menopang, saling bergantung, saling memperkuat. jik satu pondasi runth makan efeknya akan merembet ke yang lain. saat pandemi meruntuhkan industri pariwisata, maka secara langsung meruntuhkan bisnis transportasi, begitu terus seperti efek domino menghancurkan bisnis lain.

kondisi seperti ini membuat bisnis-bisnis dengan kapital besar memang mampu bertahan, tapi “syarat” bertahan adalah mengurangi beban pengeluaran perusahaan. Kita semua tahun salah satu biaya terbesar adalah gaji karyawan. dan yang paling mudah dikurangi ya karyawan. karena itu saya salut dan hormat dengan perusahaan yang masih mempertahankan karyawannya.

tentu saja hal ini juga tidak sama di semua lini bisnis, beberapa perusahaan yang memang harus tutup pun mau tak mau suka tak suka harus kita mengerti. meskipun pada akhirnya mengerti saja tidak cukup, seperti kita mengerti ada covid 19 dan berbahaya, pemerintah memberlakukan PSBB/PPKM untuk mencegahnya tapi rasa lapar tidak pernah mengerti, lapar tetap lapar karena kita makhluk hidup.

seperti tumbuhan maupun hewan, manusia memiliki satu karakter yang sama, yaitu naluri untuk bertahan hidup. akar pohon akan terus menembus bebatuan di dasar tanah untuk mencari air, hewan rela bertarung demi mangsanya, dan manusia pun akan melakukan segalanya. kelaparan keluarga bagia manusia adalah aib.

pohon rela menggugurkan daunnya saat kemarau, demi struktur pohon tetap berdiri tangguh hingga musim penghujan datang, para hewan rela bertarung demi wilayahnya, dan manusia lebih memilih mati karena mencari nafkah dibanding mati meringkuk di rumah habis dikoyak sepi dan tangisan keluarga karena lapar.

makanya saat PPKM diberlakukan, banyak orang yang bilang “kami percaya covid berbahaya, tapi gimana solusi bagi kami jika usaha ditutup dan kami tidak bisa beraktifitas dan pemerintah tidak memberi bantuan apa-apa”. hidup tidak hanya soal makan, anak sekolah harus beli pulsa, listrik harus dibayar, mereka yang punya cicilan tak ada ampun ya harus tetap nyicil. manusia bukan hewan yang hidup dalam kanda cukup dipasok sembako untuk bertahan. untuk apa dipasok beras tapi gas dirumah habis, beras toh tak dapat dimakan.

selama pemerintah tidak hanya bisa membatasi tanpa memberi solusi pendemi ini hanya akan jadi api dalam sekam.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.