Nyekar yang Berakar, Telaah Arah dan Sejarah Ziarah

akhir sya’ban, adalah masa dimana pemakaman khususnya di indonesia terlihat lebih cerah dan terang dariapada biasanya. begitu juga dengan pemakaman umum yang hanya berjarak 100 meter dari tempat tinggal saya. rumput-rumput liar serta ranting-ranting pohon yang menjulang terlihat dibersihkan. semua ini bukannya tanpa sebab, karena akhir sya’ban, tepat beberapa hari menjelang ramadhan adalah saat dimana masyarakat indonesia terutama orang-orang jawa menjadikan ziarah kubur sebagai “ritual” tahunan menjelang bulan ramadhan tiba. ritual yang sudah mendarah daging, sebagai bagian yang sulit dipisahkan dari akulturasi masuknya islam dalam budaya jawa.

ziarah yang dalam bahasa jawa lebih terkenal dengan istilah nyekar, berasal dari kata dalam bahasa jawa yaitu kata “sekar” yang berarti “bunga” dalam bahasa indonesia, secara filosofi nyekar berarti menabur bunga, yaitu “ritual” yang tak pernah tertinggal dari serangkaian prosesi ziarah, selain berdoa tentunya. dalam tahap selanjutnya ada pergeseran makna dimana nyekar bisa diartikan juga ziarah.

ziarah dalam hal ini sebenarnya tidak hanya milik islam atau jawa saja, setiap agama memiliki budaya ziarah tersendiri, pemeluk buddha misalnya berziarah ke kavilavastu dan bodh gaya, diaman sang buddha dilahirkan dan mendapat pencerahan selain benares dan kusinagara. umat khatolik mengunjungi nazaret sampai bukit golgata, bahkan sendangsono di jogja. islam tentu juga memiliki tempat-tempat suci yang dijadikan sebagai tempat ziarah, seperti makkah dan madinah, terutama saat mengunjungi madinah para jamaah bisa dipastikan menengok makam nabi muhammad sampai makam para syuhada perang badar.

namun keunikan muslim indonesia adalah akulturasinya dengan budaya lokal salah satunya akulturasi dengan budaya jawa, dan dalam konteks ziarah adalah terletak pada ritus nyekar. fenomena yang oleh kalangan muslim moderenis dianggap bid’ah hingga menjadi penyebab rusaknya akidah umat. dalam perkembangannya ritual ziarah makam di bulan sya’ban terjadi pada dua mode pamahaman para peziarah, pertama peziarah tradisional sufisme jawa, dan peziarah tradisi faham modern.

pada golongan yang pertama yaitu peziarah tradisional sufisme jawa, peziarah ini sudah mulai berkurang, namun konsep awal dari golongan inilah yang kemudian menjadi panutan yang menyebar di masa kini. orang-orang jawa (masa lampau) percaya bahwa pada akhir bulan sya’ban, arwah orang-orang mati akan kembali ke dunia untuk menjenguk keluarga, oleh sebab itu bulan sya’ban dinamai ruwah dalam horoscope jawa, yang berarti arwah yaitu buntuk jamak dari ruh. bulan itu dianggap bulan yang baik untuk ziarah sebelum bulan ramadhan.

golongan kedua yaitu peziarah tradisi faham modern, peziarah ini tidak lagi menganut konsep asal nyekar, tapi tetap menjalankan tradisinya. golongan kedua tetap menjalankan tradisi nyekar dengan alasan dan konsep berbeda, golongan ini yang banyak pada zaman modern, golongan kedua melakukan ziarah di akhir bulan sya’ban dengan alasan refleksi pada kematian, serta berbagi doa dengan keluarga yang sudah meninggal, hingga sekedar pengobat rindu atau bahkan ada yang sekedar ikut-ikutan. konsep ini dianggap lebih islami dan jauh dari sikap bid’ah dan syirik.

tapi tentu saja ziarah tidak lepas dari pertentangan berkepanjangan, apalagi ritus ziarah di bulan sya’ban. Sejarah dalam konteks pemahaman awal saja sudah pengalami benturan besar dalam gharis-garis sekte islam, terutama wahabi dan non-wahabi. Kaum wahabi menggap segala bentuk ziarah sebagian besar berentuk bid’ah dan mendekatkan pada syirik.Suara kritik keras akan ritus ziarah keluar dari beberapa ulama sepertiIbn Aqil (1119 m), ibn Taimiya (1328 m),ibn qayim al-jawziyya (1350) dan puncaknya saa muhammad b. Abd al-wahab dan muhammad b. Sa’ud menguasai makkah dan madinah. Dan mengembangkan pemahaman konsep wahabi, salah satunya melakukan pelarangan ritus ziarah karena mendekatkan dengan syirik dan bid’ah.

Gugatan atas sepak terjang wahabi masa itu diserukan oleh syakh ja’far subhani lewat kitab berjudul “wahhabiyah fi-l-mizan”. Namun jauh sebelum itu, sebetulnya al-ghazali sudah merumuskan konsep “jalan tengah” bahwa konsepziarah berarti penyerahan diri. Konsep itu yang juga berarti kata islam. Hal ini didasarkan al-ghazali pada hadist nabi “mengunjungi makam-makam menjadi anjuran dengan tujuan untuk membuat pengenangan (dhikir) dan sekaligus mengadakan permenungan (i’tibar) …. semula Allah melakukan pelarangan kunjungan ke makam-makam, tapi kemudian ia mengizinkannya.

Dalam tataran ritus jawa konsep ziarah dengan pendekatan islami secara bertahapdilakukan oleh para wali terutama para walisongo, seperti sunan kalijaga, sunan bonang, sunan giri, hingga syaikh maulana ishak di pasai.Sumber-sumber awal ini bisa dicari di munaskrip sastra jawa seperti suluk wujil, suluk sukarsa dan beberapa suiluk lain dalam konsep sufisme jawa, ziarah adalah proses kembali keawal. Konsep ini berasal dari kalimat innalilahi wa innailaihi roji’un “berasal dari Allah dan kembali pada Allah” dalam prosesi ziarah adalah menelusuri asal usul kejadian (sangkan paraning dumadi).Sesungguhnya para wali memberi gambaran dan mengajarkan penyebaran islam tanpa kekerasan dalam bentuk apapun, maka ziarah juga bukanlah sebuah proses kekenesan atau mencari pelarian. Sebab dalam ritus ziarah ada kenangan akan nilai kemanusiaan yang agung.

Syahdan, pendekatan apapun yang tertuang dalam konsep ziarah kubur akhirnya bermuara pada satu hal yaitu kematian. Ziarah dalam konsep jawa kuno memang sudah mulai ditinggalkan walau ritusnya tidak, artinya pemahaman nyekar di bulan rewah (sya’ban) tidak lagi didasari pada pemahaman kuno jawa tapi lebih pada proses pendekatan diri kepada Allah lewat i’tibar dan perenungan kematian, namun disisi lain masyarakat tetap menjalankan ritual nyekar sebelum ramadhan. Dan satu hal penting yang harus difahami nyekar atau ziarah mendekati bulan ramadhan bukanlah prosesi ngalap (meminta) berkah pada jenazah atau arwah.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.