Tanah Air dan Tumpah Darah

mentari bersinar terang di langit jogja siang ini, cahayanya mempesona menembus helai-helai kanopi dan membias di jendela yang belum terbuka. jogja terasa sama seperti hari sebelumnya, tapi setidaknya suasana puasa masih menggelayut membuat beberapa orang malas untuk bergerak. jogja yang indah bersemi dalam akulturasi agama dan budaya, sebagian orang mulai mencoba merusak keharmonisannya, dan istana di jakarta sepertinya mulai bersahabat dengan jogja. jogja yang nyaman berbeda dengan kepenatan dan kesibukan yang terjadi di jakarta, penuh polusi dan kemacetan. orang bilang bicara jakarta adalah bentuk mini dari indonesia, mungkin betul, karena orang istana pikir dalam soal pembangunan indonesia hanya jakarta, jakarta yang pertama dan utama. mungkin saja orang-orang diperbatasan berkah untuk marah pada pusat, sintang berteriak akan menurunkan merah-putih, palangkaraya memanasa menolak rel kereta, dan papua bergolak minta merdeka.

mungkin lantunan “indonesai raya” tak lebih dari sekedar retorika, indonesia tanah airku tanah, tumpah darahku. atau mungkin itulah kenyataan. dari sejak pertama masuk tingkat satuan pendidikan dengan seragam merah putih hingga menjadi maha dengan pakaian bebas di kampus, kita diajari bagaimana mencintai negeri ibu pertiwi, negeri subur makmur gemah ripah loh jinawi, kita diajari berseru indonesia tanah air kita tanah tumpah darah kita, dulu saya pikir ini hanya isapan jempol biasa, tamun ternyata inilah fakta bagaiaman kita diajari untuk merasakan kecintaan kita pada negeri, kepada tanah dan air serta pengorbanan darah yang tertumpah.

kita diajari untuk mencintai tanah dan air. kita tidak diajari untuk mencintai garam dalam 68% luas wilayah teritorial negeri, kita tidak diajari mencintai kekayaan negeri ini yang ada di bawah laut, kita tidak diajari mencintai ikan dan trumbu karang, bahkan kita tidak diajari mencintai minyak bumi, batu bara dan gas, kita tidak diajari mencintai sumber kekayaan alam hayati dan energi, hasilnya keanekarahaman hayati yang terdistorsi, dan kekayaan energi yang habis tanpa pernah sebagian besar rakyatnya rasakan. emas di keruk asing, gas di jual murah, hampir tak ada yang tersisa dari semua isi tanah dan air kita. rakyat diahruskan mencintai tanah dan air, hasilnya warga negeri ini hanya bisa merasakan tanah longsor dan air banjir.

kita diajari dalam heroisme perjuangan, tanah ibu pertiwi sebagai tanah tumpah darah dimana pahlawan berjuang meraih kemerdekaan. kita tidak diajari bagaimana membangun negeri ini, kita tidak diajari bagaimana tumpah darah berarti perjuangan meraih kesejahteraan dan pendidikan, tumpah darah tak diajari bagaimana berbagai dan kesehatan yang murah. tumpah darah diterjemahkan bagai dewi sri diamna darah yang tumpah adalah untuk penyubur, hasilnya setiap kekuasaan di negeri ini dibayar dengan darah. di tanah sumatra, puluhan tahun aceh bergolak ribuan darah tumpah di tanah ibu pertiwi, tragedi lampung berdarah, jawa-bali banjir darah saat puluhan sampai ratusan ribu simpatisan komunis dibantai oleh orang-orang yang mengaku beragama. darah mengucur dan tertumpah di sampit hingga ambon, kepulauan timor tak lepas dari tetesan meras dari tubuh, bahkan hingga kini papua masih mencurah darah merah dari nadi rakyatnya di tanah ibu pertiwi.

tak ada yang salah, dari kalimat heroisme itu, dan pemerintah serta rakyatnya menerjemahkan itu dengan sangat baik dengan pemaknaan literal yang hebat. syair yang terlantun dari lagu-lagu nasional dan perjuangan kita begitu luar biasa hingga menghipnosis kita, di negeri ini apa yang kita cintai benar-benar kita dapatkan, cintai tanah airmu maka kau dapatkan tanah longsor dan air banjir, rasakanlah tanah ini tanah tumpah darahmu maka percayalah di tanah ini darah akan terus tumpah.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.